3/17/2026

Literature review dalam penelitian

Literature review adalah ringkasan tertulis dari artikel jurnal, buku, dan dokumen lain yang mendeskripsikan kondisi pengetahuan masa lalu dan saat ini tentang suatu topik, mengorganisasi literatur ke dalam subtopik/ tema, dan menunjukkan kebutuhan untuk studi yang diusulkan seperti gap, konflik, keterbatasan riset yang ada (Creswell & Guetterman, 2019).

Dalam bentuk riset yang paling ketat, review terutama didasarkan pada artikel jurnal hasil penelitian, tetapi bisa juga memasukkan buku, makalah konferensi, dan dokumen pemerintah.


Enam langkah melakukan literature review

Creswell dan Guetterman (2019) merangkum proses literature review jadi 6 langkah saling terkait:

  • Mengidentifikasi kata kunci
  • Menemukan literatur terkait
  • Mengevaluasi secara kritis dan menyeleksi literatur
  • Mengorganisasi literatur (catatan, abstrak)
  • Mensintesis literatur dan membuat literature map (peta literatur)
  • Menulis literature review tertulis


Langkah 1: Mengidentifikasi kata kunci

Tujuannya untuk menyempitkan topik jadi beberapa istilah kunci (1–2 kata) yang akan dipakai untuk mencari literatur di katalog dan database.

Strategi yang disarankan:

1. Tulis judul kerja (working title)

Ambil 2–3 kata paling penting dari judul itu sebagai kata kunci. Judul ini bersifat sementara, boleh diubah seiring proses riset.

2. Tulis satu pertanyaan riset umum

Setelah menulis pertanyaan lalu pilih 2–3 kata di dalamnya yang paling mewakili arah studi.

3. Gunakan istilah dari teori atau konsep di literatur

Misal literatur bicara tentang “social support” atau “learning styles”. Istilah‑istilah ini bisa langsung dipakai sebagai kata kunci.

4. Mulai dari database online (misal Scopus, ERIC)

Masukkan kata kunci awal, lihat artikel yang muncul, dan persempit lagi bila terlalu banyak hasil (tambah kata kunci lagi).


Langkah 2: Menemukan literatur

1. Mengutamakan perpustakaan akademik

Creswell dan Guetterman (2019) menyarankan mulai dari perpustakaan perguruan tinggi karena koleksinya lebih lengkap dan terstruktur dibanding perpustakaan umum.

Sumber utama di perpustakaan akademik:

a. Database elektronik (paling penting):

  • ERIC (khusus pendidikan)
  • Google Scholar, Web of Science, JSTOR (umum)
  • database lain (PsycINFO, sosiologi, dsb.)

b. Abstrak dan indeks:

Seri abstrak per bidang (mis. Educational Administration Abstracts) dan indeks seperti Education Index.

c. Summaries (ringkasan):

  • Ensiklopedia pendidikan
  • Kamus/ metodologi (mis. SAGE Dictionary)
  • Handbooks
  • Indeks statistik (Digest of Educational Statistics)
  • Jurnal review seperti Review of Educational Research

d. Buku:

Terutama buku yang merangkum riset atau diskusi konseptual.

e. Jurnal dan publikasi terindeks:

  • Artikel jurnal (refereed/ non‑refereed, nasional/ internasional)
  • Makalah konferensi, tesis, disertasi, publikasi asosiasi profesional

f. Early-stage material:

  • Draf makalah, newsletter asosiasi, makalah di website
  • Standar kualitas pada sumber ini biasanya paling rendah, jadi perlu hati‑hati

2. Internet dan database umum

Internet memudahkan akses 24 jam, tapi tidak semua materi berkualitas. Kelebihannya adalah mudah, cepat, banyak informasi. Sedangkan kekurangannya adalah kualitas kadang tidak diseleksi, perlu cek kredibilitas (penulis, standar review, dsb.). 

Tips menilai kredibilitas artikel online:

  • Apakah dipublikasikan di jurnal online peer‑reviewed?
  • Apakah penulis dikenal dan punya publikasi di jurnal buku bereputasi?
  • Apakah website punya standar seleksi?
  • Tanyakan ke dosen/ pembimbing bila ragu

3. Primary dan secondary sources

  • Primary sources adalah laporan asli oleh peneliti yang melakukan studi. Contoh: artikel riset di jurnal
  • Secondary sources adalah rangkuman/ sintesis dari primary sources. Contoh: handbooks, ensiklopedia, artikel review sistematik

Saran:

  • Untuk ditulis dalam review, utamakan primary sources, karena memberi detail penelitian, menyajikan pandangan penulis asli
  • Secondary berguna di awal untuk mendapat gambaran luas dan menemukan referensi kunci


Langkah 3: Mengevaluasi dan menyeleksi literatur

Setelah menemukan banyak sumber, kita perlu memilih mana yang layak dipakai.

1. Menilai kualitas

  • Beberapa pedoman yang perlu diperhatikan adalah prioritaskan artikel jurnal yang direview (refereed), ada dewan editor dan reviewer dari berbagai institusi
  • Gunakan sistem prioritas seperti jurnal refereed, jurnal non‑refereed, buku, makalah konferensi, tesis, disertasi, dan artikel non‑review di website
  • Pastikan itu benar‑benar research dengan melihat ada pertanyaan, pengumpulan data, hasil/kesimpulan yang berbasis data
  • Termasuk riset kuantitatif dan kualitatif, meski studi kita cuma pakai salah satunya, literatur dari kedua jenis tetap berguna

2. Menilai relevansi

Pertimbangan relevansi:

Topik, apakah sama dengan topik studi kita?

  • Individu/situs, apakah meneliti jenis partisipan/ lokasi yang mirip dengan rencana kita?
  • Masalah/pertanyaan, apakah mengkaji problem yang sama? dan menjawab pertanyaan serupa?
  • Aksesibilitas, apakah dapat diakses melalui perpustakaan/website? dan mudah diperoleh?

Kalau mayoritas ya, sumber itu layak dimasukkan ke review.


Langkah 4: Mengorganisasi literatur

Begitu sumber terkumpul dan sudah diseleksi, kita perlu sistem untuk menyimpan dan mencatatnya.

1. Menyimpan file dan referensi

  • Unduh artikel (PDF/ HTML), scan, atau fotokopi.
  • Simpan dengan sistem yang jelas, misalnya folder komputer, diberi nama penulis_tahun atau di program manajemen referensi (EndNote, Mendeley, Zotero, RefWorks)
  • Copyright umumnya hanya mengizinkan 1 artikel lengkap difotokopi untuk keperluan pribadi

Program referensi memudahkan menyimpan PDF, meng‑export sitasi ke format APA dsb.

2. Membuat catatan dan abstrak

Catatan informal dengan cara tulis poin penting (pertanyaan, jenis data, hasil utama), dan sertakan sitasi lengkap.

Abstrak sistematis (lebih disarankan) dengan cara menulis ringkasan ± sampai 350 kata per studi yang mecangkup problem penelitian, pertanyaan/ hipotesis (kuantitatif) atau pertanyaan (kualitatif), prosedur pengumpulan data, dan hasil/ temuan utama.


Langkah 5: Mensintesis literatur & membuat literature map

Kesalahan umum pemula hanya membuat daftar kronologis seperti studi A menemukan ini, lalu studi B, kemudian C… tanpa mengorganisasi ke dalam konsep/ tema besar.

1. Sintesis berdasarkan konsep/ tema

Gunakan catatan/ abstrak sebelumnya untuk mengelompokkan studi berdasarkan konsep kunci (misal: “peran orang tua”, “undangan guru”, “self‑efficacy”). Bisa mulai dengan tabel sederhana, kolom 1: konsep/ tema dan kolom 2: daftar studi yang terkait. Ini akan jadi fondasi struktur review tertulis nantinya.

2. Literature map (peta literatur)

Literature map adalah gambar/ bagan yang menampilkan studi‑studi utama pada suatu topik, beserta hubungan antar kelompoknya.

Fungsinya untuk membantu kita melihat tema besar dan tumpang tindih informasi, memposisikan studi kita di dalam “peta”, dan menunjukkan bagaimana studi kita menambah/memperluas literatur yang ada.

Bentuk peta bisa bermacam‑macam:

  • Hierarkis (atas–bawah): topik luas di atas, turun ke subtopik dan studi contoh (contoh Hovater soal pelatihan guru multikultural)
  • Sirkular: lingkaran yang saling terhubung
  • Sequential: menunjukkan bagaimana literatur menyempit menuju studi yang diusulkan

Pedoman membuat literature map:

  • Letakkan kata kunci/ topik di bagian atas/ inti
  • Kelompokkan studi ke dalam 3–4 kelompok tema utama
  • Beri label tiap kotak (label itu kelak bisa jadi subjudul di review)
  • Kembangkan cabang sedalam mungkin (beberapa area mungkin punya lebih banyak studi)
  • Tambahkan kotak “proposed study/ studi saya” di bagian bawah/ samping, dan hubungkan dengan cabang yang relevan


Langkah 6: Menulis literature review

Setelah literatur dipilih, dicatat, disintesis, dan dipetakan, barulah kita menyusun ringkasan tertulis.

Dua kelompok utama:

  • Gaya dan format (style manual, rujukan, heading)
  • Strategi penulisan (panjang review, tipe review, penutup review)

1. Style manual dan sitasi

Penulis menekankan pentingnya memakai style manual baku, agar format referensi konsisten dan pembaca mudah mengikuti pola tulisan.

Beberapa style manual yang disebut:

  • APA (American Psychological Association) – paling umum di pendidikan
  • Chicago Manual of Style
  • Turabian

Tiga hal utama dari APA yang ditekankan:

a. End‑of‑text references 

Daftar referensi di akhir laporan; diurut alfabetis; double‑spaced.

b. Within‑text references (sitasi di dalam teks)

  • Pola penulisan nama (1 penulis, banyak penulis, organisasi) dijelaskan
  • Anjuran sitasi sumber asli, bukan “Smith, dikutip dalam Theobald”

c. Headings

  • Memberi struktur logis pada teks, seperti topik di outline
  • Menurut APA, maksimal ada 5 level heading, tapi kebanyakan studi pendidikan pakai 2–3 level saja.

Contoh dua level heading di literature review:

  • Level 1 (tengah, bold): Review of the Literature
  • Level 2 (rata kiri, bold): Introduction, Social Support Research, dsb.

2. Panjang (extent) literature review

Panduan umum panjang literature review:

a. Disertasi/ tesis

Biasanya sangat luas; menelusuri hampir semua sumber sejak awal munculnya topik.

b. Proposal penelitian

Umumnya 10–30 halaman (bisa bervariasi); fungsinya untuk membangun kerangka studi dan mendokumentasikan pentingnya masalah.

c. Artikel jurnal

Lebih pendek karena batas kata. Review kuantitatif biasanya di bagian khusus “Review of the Literature”. Dalam kualitatif, review sering lebih singkat dan kadang menyatu dengan pendahuluan.

d. Untuk rentang waktu literatur

  • Disertasi/ tesis muncul sejak awal topik muncul
  • Proposal/ artikel: fokus 10 tahun terakhir, kecuali studi klasik yang sangat berpengaruh.

3. Tipe literature review

Tiga model utama:

a. Thematic review (berdasarkan tema)

  • Mengidentifikasi tema, lalu secara singkat mengutip beberapa studi untuk mendukung tiap tema
  • Tidak membahas tiap studi secara rinci
  • Sering dipakai di artikel jurnal dan juga di tesis/ disertasi
  • Cirinya di bawah satu subjudul tema, ada beberapa sitasi yang menguatkan ide besar

b. Study‑by‑study review

Setiap studi diringkas satu per satu secara lebih rinci (problem, pertanyaan, data, hasil). Namun tetap dikelompokkan di bawah tema besar.

Contoh: review McAllister & Irvine (2000) di Review of Educational Research yang membahas tiap studi tentang model identitas ras Helm satu‑per‑satu.

c. Systematic review/ research synthesis

Pendekatan formal dan sistematis untuk merumuskan problem dan variabel, mencari semua studi terkait, mengekstrak data, mengevaluasi kualitas studi, dan mengintegrasikan hasil ke dalam pernyataan terpadu (kadang dengan statistik: meta‑analysis).

Contoh: Dipandu oleh tahapan Cooper dkk.: problem formulation → literature search → data extraction → data evaluation → analysis & interpretation → public presentation.

4. Menutup (concluding) literature review

Penutup literature review punya dua tujuan utama:

a. Merangkum tema utama dengan mengidentifikasi 3–4 tema besar dari semua studi, dan menulis ringkasan pendek tiap tema.

b. Menjelaskan kekurangan literatur saat ini dan alasan perlunya studi kita dengan cara menyebutka 3–4 alasan spesifik seperti:

  • Gap yang belum diteliti
  • Konteks/ kelompok yang belum dikaji
  • Keterbatasan desain terdahulu
  • Konflik hasil studi


Materi kali ini menjadi jembatan kita menuju:

  • Pernyataan tujuan (purpose statement)
  • Pertanyaan penelitian
  • Hipotesis (untuk kuantitatif)


Referensi

Creswell, J. W., & Guetterman, T. C. (2019). Educational research: Planning, conducting, and evaluating quantitative and qualitative research (6th ed.). Pearson.

3/16/2026

Cara menulis pendahuluan penelitian yang baik

Bagian ini kita akan membahas bagaimana statement of the problem pada bagian pendahuluan. Sebelum membaca ini, kalian perlu membaca postingan sebelum ini yang membahas tentang:

  • Mengidentifikasi research problem
  • Memastikan bisa dan layak diteliti
  • Memilih pendekatan kuantitatif atau kualitatif

Setelah memahami ketiga hal tersebut, selanjutnya kita akan belajar menulis statement of the problem, yaitu bagian pembuka laporan yang memperkenalkan studi kita.


Lima elemen utama yang wajib ada

Creswell dan Guetterman (2019) menjelaskan bahwa introduction atau statement of the problem yang baik memuat 5 elemen sebagai berikut:

  • Topik
  • Research problem
  • Justification (urgensi/ pentingnya problem dari riset dan praktik)
  • Deficiencies (kekurangan dalam pengetahuan/ praktik sekarang)
  • Audience (siapa yang diuntungkan)

Kelima elemen ini membantu pembaca memahami pembukaan studi orang lain dan menjadi panduan menulis pendahuluan sendiri.

1. Topik

Kalimat pembuka harus membuat pembaca ingin lanjut membaca, menumbuhkan minat, dan memberi gambaran umum topik. Topik dalam pendidikan adalah bidang luas yang ingin kita kaji dan menimbulkan ketertarikan awal.

Tips:

  • Mulai dari topik luas yang mudah dipahami pembaca awam
  • Gunakan narrative hook di kalimat pertama untuk menarik perhatian. Ciri narrative hook yang baik seperti membuat pembaca memperhatikan, bereaksi secara emosional, tertarik, dan ingin terus membaca

Empat jenis informasi yang bisa dipakai sebagai hook:

  • Statistik yang mencolok
  • Pertanyaan provokatif
  • Pernyataan jelas bahwa diperlukan penelitian
  • Langsung menyebut tujuan studi

2. Research problem

Setelah topik, tulisan dikerucutkan ke research problem spesifik. Bisa ditulis sebagai satu kalimat atau beberapa kalimat pendek.

Problem terdiri dari:

  • Practical problem yaitu muncul dari isu di lapangan (kebijakan, praktik). Contohnya seperti kebijakan satu anak di keluarga dan nilai anak laki‑laki vs perempuan)
  • Research-based problem yaitu muncul karena gap/ konflik di literatur penelitian. Contoh research-based problem yaitu kurangnya riset yang menghubungkan dua area seperti kepercayaan guru pada praktik reading yang sesuai perkembangan dan orientasi teoretis guru)

3. Justification (alasan kenapa problem penting)

Tidak cukup hanya menyebut problem karena harus menjelaskan mengapa penting dipelajari. Justifikasi berarti menyajikan beberapa alasan yang menunjukkan urgensi problem, misalnya konsekuensi bagi siswa/ sekolah, besarnya masalah, dan kaitan dengan kebijakan/ praktik.

Sumber justifikasi:

  • Saran peneliti lain di literatur (Penelitian masa depan, model yang belum lengkap, kebutuhan teori lebih lengkap).
  • Pengalaman di tempat kerja (isu kebijakan, disiplin)
  • Pengalaman pribadi (terutama untuk action research, narrative, studi praktis).

Catatan: pengalaman pribadi sebaiknya tidak satu‑satunya justifikasi, terutama di kuantitatif; sebaiknya dikombinasikan dengan literatur dan pengalaman kerja.

4. Kekurangan pengetahuan/ praktik

Di bagian ini, peneliti menjelaskan bagaimana pengetahuan/ praktik saat ini belum memadai untuk menjawab problem. Kekurangan bisa berupa perluasan riset ke topik/ konteks baru, replikasi, eksplorasi topik baru, mengangkat suara kelompok terpinggirkan, dan kebutuhan solusi praktik yang belum ditemukan. Peneliti dianjurkan menyebut 2–3 alasan spesifik mengapa literatur/ praktik yang ada masih kurang.

5. Audience (pembaca yang diuntungkan)

Peneliti perlu menyebut siapa saja yang akan diuntungkan oleh studi ini misalnya peneliti lain, praktisi (guru/ kepala sekolah), pembuat kebijakan, orang tua, siswa. Bagian ini biasanya muncul di paragraf penutup pendahuluan dan mempersonalisasi studi (pembaca melihat manfaat untuk dirinya), serta mengingatkan peneliti bahwa hasil penelitian harus berguna.


Strategi menulis statement of the problem

Creswell dan Guetterman (2019) menyarankan beberapa strategi praktis untuk menulis statement of the problem:

1. Gunakan template 5 paragraf

Bayangkan introduction sebagai 5 paragraf, masing‑masing untuk topik, research problem, justifikasi, kekurangan (deficiencies), dan audience.

2. Gunakan banyak sitasi literatur

Gunakan referensi yang banyak memberi nada ilmiah (scholarly tone) dan bukti objektif bukan sekadar opini pribadi. Referensi statistik sangat berguna untuk studi kuantitatif; kutipan partisipan cocok untuk studi kualitatif.

3. Pakai data statistik atau kutipan sebagai penguat

Statistik menonjolkan besarnya masalah (misal persentase perokok remaja). Sedangkan kutipan partisipan/ observasi sangat efektif untuk studi kualitatif.

4. Belajar dari contoh problem statement yang sudah jadi

Peneliti dianjurkan membaca pendahuluan studi‑studi yang telah dipublikasi dan mencari kelima elemen tersebut.


Referensi

Creswell, J. W., & Guetterman, T. C. (2019). Educational research: Planning, conducting, and evaluating quantitative and qualitative research (6th ed.). Pearson.

3/15/2026

Identifikasi masalah penelitian

Masalah peelitian (research problem) adalah isu, masalah, keprihatinan, atau kontroversi pendidikan yang menjadi alasan mengapa sebuah studi perlu dilakukan (Creswell & Guetterman, 2019).

Creswell & Guetterman, 2019 menjelaskan masalah penelitian biasanya muncul dari masalah di sekolah/ kelas/ kampus/ kebijakan dan isu praktik pendidikan sehari‑hari.

Contoh:

  • Gangguan di kelas karena siswa berisiko
  • Kurangnya keterlibatan orang tua


Mengapa penting?

Dengan meneliti masalah, peneliti bisa membantu pembuat kebijakan, membantu guru dan kepala sekolah menyelesaikan masalah praktis, dan memberi pemahaman lebih dalam tentang isu pendidikan.


Membedakan topik, research problem, purpose, research questions

Ini hal yang sering tertukar oleh pemula, jadi disini kita bahas perbedaannya.

1. Definisi:

a. Topik adalah bidang bahasan yang luas, judul besar yang mau dikaji. 

Contoh: online learning.

b. Research problem adalah isu/ masalah khusus yang mempersempit topik.

Contoh:

Topik: online learning.

Problem: kurangnya mahasiswa yang mendaftar kelas online.

c. Purpose statement (tujuan penelitian) adalah pernyataan niat utama studi, cara konkret untuk menangani problem.

Contoh: Tujuan dari studi ini akan mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi pemanfaatan online learning dalam pembelajaran.

d. Research questions adalah pertanyaan spesifik yang akan dijawab melalui pengumpulan data.

Contoh: Apakah pemanfaatan online learning mampu meningkatkan motivasi belajar siswa?


Apakah masalah itu bisa dan seharusnya diteliti?

Agar masalah bisa diteliti kita perlu memastikan syarat-syarat seperti akses, waktu, sumber, dan keterampilan, sebagai berikut:

1. Akses ke orang dan lokasi

  • Harus bisa dapat izin masuk ke sekolah/ kampus/ dll.
  • Sering butuh persetujuan berlapis: dinas, kepala sekolah, guru, orang tua, siswa, dan IRB (komite etik kampus).
  • Tanpa akses, studi tidak mungkin dilakukan.

2. Waktu

  • Perlu taksiran realistis berapa lama pengumpulan dan analisis data.
  • Studi kualitatif umumnya lebih lama (banyak observasi, wawancara, analisis teks).
  • Bisa lihat durasi studi sejenis, tanya peneliti lain, dan buat timeline.

3. Sumber daya

  • Dana (alat, honor partisipan, transkripsi, software statistik/CAQDAS, ongkos kirim, dll.)
  • Kalau sumber terbatas, mungkin harus memperkecil skala studi, mencari dana, dan membagi studi jadi beberapa tahap.

4. Keterampilan peneliti

  • Kuantitatif: mengoperasikan komputer, statistik, membuat tabel.
  • Kualitatif: wawancara, observasi, analisis teks, menulis narasi rinci, menggunakan software analisis kualitatif.

Keempat aspek ini perlu dipastikan sebelum melakukan penelitian agar penelitian bisa berjalan dengan lancar.

Selanjutnya, bagaimana memastikan bahwa masalah layak atau bernilai untuk diteliti:

1. Mengisi gap (kekosongan) di literatur

Ada topik/kelompok yang belum pernah dikaji.

Contoh: studi tentang iklim etis kampus yang selama ini hanya meneliti mahasiswa, belum pernah meneliti dosen—ini celah yang bisa diisi.

2. Mereplikasi studi di partisipan atau tempat lain

Mengulang studi sebelumnya di konteks baru (jenis kampus lain, daerah lain, dll.) untuk melihat apakah hasilnya konsisten.

3. Memperluas (extend) penelitian yang ada

Membawa konsep lama ke konteks/ topik baru atau mengkaji lebih mendalam.

Contoh: iklim etis diperluas ke konteks situasi ujian, yang membawa dilema etis berbeda.

4. Memberi suara pada kelompok terpinggirkan

Meneliti kelompok yang sebelumnya jarang/ tidak didengar: tunawisma, perempuan, kelompok ras tertentu.

Contoh: studi iklim etis pada mahasiswa asal Papua, karena studi sebelumnya fokus pada kampus mayoritas di daerah Jawa.

5. Menginformasikan praktik

Studi menghasilkan saran praktis: teknik baru, kebijakan baru, penguatan praktik lama, atau kebutuhan mengubah praktik.

Contoh: studi etika di kampus bisa berujung pada kode etik baru, kebijakan anti‑curang, cara baru mengelola ujian.


Perbedaan research problem kuantitatif dan kualitatif

Setelah punya masalah, peneliti harus mempertimbangkan lebih cocok menggunakan pendekatan kuantitatif atau kualitatif?

1. Prinsip dasar: explanation vs exploration

  • Kuantitatif untuk masalah yang butuh penjelasan (explanation); butuh menjelaskan hubungan antar variabel atau memprediksi suatu hasil / tren
  • Kualitatif untuk masalah yang butuh eksplorasi (exploration); butuh memahami proses, makna, atau pengalaman secara mendalam dan biasanya ketika variabel/ pola belum jelas

Contoh studi kuantitatif keterlibatan orang tua:

  • Problem: kita tahu sedikit tentang faktor apa yang menjelaskan mengapa orang tua terlibat di sekolah anak remaja
  • Tujuan: menjelaskan/ memprediksi hubungan antar faktor (variabel)

Contoh studi kualitatif kepercayaan ibu terhadap kepala sekolah:

  • Problem: perlunya pemahaman tentang kepercayaan ibu anak berkebutuhan khusus pada kepala sekolah
  • Tujuan: mengeksplorasi dan memahami hakikat kepercayaan

2. Tabel pertimbangan praktis

Gunakan kuantitatif bila problem menuntut kita untuk mengukur variabel, menilai dampak variabel terhadap suatu outcome, menguji teori atau penjelasan luas, dan menerapkan hasil ke banyak orang (generalisasi).

Gunakan kualitatif bila problem menuntut kita untuk mempelajari pandangan individu, menilai proses dari waktu ke waktu, membangun teori dari perspektif partisipan, dan memperoleh informasi rinci dari sedikit orang/ sedikit lokasi.


Referensi

Creswell, J. W., & Guetterman, T. C. (2019). Educational research: Planning, conducting, and evaluating quantitative and qualitative research (6th ed.). Pearson.

Penelitian kualitatif dan kuantitatif dalam pendidikan

Penelitian adalah proses bertahap untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi agar kita lebih memahami suatu topik atau masalah.


Mengapa penelitian pendidikan penting?

Ada tiga alasan utama pentingnya melakukan penelitian pendidikan:

1. Menambah pengetahuan

Penelitian dapat mengisi kekosongan di literatur (topik yang belum pernah diteliti), menguji ulang temuan lama dengan konteks/partisipan baru, memperluas pemahaman kita (misalnya meneliti kelompok yang belum pernah disuarakan), menunjukkan praktik yang bekerja dan yang tidak, dan memperbaiki praktik.

2. Memfasilitasi guru meningkatkan kualitas pengajaran

Dari peneltian, guru dapat mencari garis penelitian (line of research) yang sesuai kebutuhan kelasnya, membandingkan berbagai pendekatan lalu memilih yang paling mungkin efektif di konteksnya, dan penelitian membantu guru menjadi lebih efektif sehingga hasil belajar siswa meningkat.

3. Menginformasikan kebijakan

Pembuat kebijakan pendidikan bisa menggunakan hasil penelitian ketika menyusun aturan, program, atau kebijakan baru.


Masalah yang sering muncul dalam penelitian

Creswell dan Guetterman (2019) menjelaskan bahwa tidak semua penelitian itu bagus karena:

1. Data bisa kurang dapat dipercaya

Misalnya responden tidak tepat, jumlah sampel sangat kecil, pertanyaan survei ambigu, dan statistik yang dipakai tidak tepat.

2. Laporan bisa tidak jelas

Misalnya tujuan kabur, prosedur pengumpulan data tidak dijelaskan, dan masalah penelitian tidak dirumuskan dengan baik.


Proses dalam penelitian

Secara umum ada 3 proses penting dalam penelitian:

1. Mengajukan pertanyaan

2. Mengumpulkan data untuk menjawab

3. Menyajikan jawaban atas pertanyaan

Secara lengkap, Creswell dan Guetterman (2019) menjabarkan proses ini menjadi 6 langkah (bisa berulang, bukan selalu linear):

1. Mengidentifikasi masalah penelitian

  • Menentukan isu/masalah pendidikan yang akan dikaji
  • Menjelaskan mengapa masalah itu penting untuk diteliti
  • Menunjukkan siapa yang akan diuntungkan oleh penelitian ini

2. Menelaah literatur

  • Mencari dan membaca ringkasan penelitian, buku, artikel jurnal, laporan
  • Tujuannya untuk mengetahui apa yang sudah dan belum diketahui, menghindari duplikasi yang tidak perlu, membangun di atas pengetahuan yang sudah ada

3. Menentukan tujuan dan pertanyaan/hipotesis

  • Menyusun purpose statement (pernyataan tujuan) atau apa niat utama dalam studi
  • Mengurainya menjadi pertanyaan penelitian (research questions), dan/atau hipotesis (khusus kuantitatif) yang memprediksi hubungan antar variabel

4. Mengumpulkan data

  • Menentukan siapa/apa yang akan diteliti (partisipan, lokasi)
  • Menentukan cara mengumpulkan data (kuesioner, wawancara, observasi, dokumen, dsb)
  • Menentukan prosedur izin/etika yang harus diikuti

5. Menganalisis dan menafsirkan data

Analisis:

  • Analisis kuantitatif dengan menggunakan statistik (rata‑rata, perbandingan kelompok, korelasi, dsb)
  • Analisis kualitatif dengan mengelompokkan kata/gambar menjadi kategori/tema, membuat deskripsi kaya

Interpretasi:

  • Menjelaskan apa arti temuan
  • Membandingkan dengan literatur/prediksi awal
  • Menyebutkan keterbatasan dan arah penelitian lanjut

6. Melaporkan dan mengevaluasi penelitian

  • Menulis laporan (skripsi/tesis, artikel jurnal, laporan sekolah, makalah konferensi, dsb.)
  • Menyesuaikan struktur dan bahasa laporan dengan audiens
  • Pembaca lalu menilai kualitas penelitian berdasarkan standar tertentu


Karakteristik penelitian kuantitatif

Penelitian kuantitatif tepat apabila kita ingin mengukur dan menjelaskan hubungan antar variabel.

Ciri utama kuantitatif di sepanjang 6 langkah:

1. Masalah penelitian

Biasanya berupa deskripsi tren (mis. seberapa banyak, seberapa sering), atau penjelasan hubungan antar variabel (mis. apakah X memengaruhi Y).

2. Literatur

Berperan besar menunjukkan apa yang sudah diketahui, membantu menyusun pertanyaan/hipotesis, memberikan dasar teori untuk hubungan antar variabel.

3. Tujuan, pertanyaan, hipotesis

  • Spesifik, sempit, terukur, dapat diamati
  • Menyebutkan variabel dengan jelas (mis. “pengaruh metode X terhadap nilai ujian Y”)
  • Sering memakai teori sebagai jembatan yang memprediksi hubungan tersebut

4. Pengumpulan data

  • Mengumpulkan data numerik dari banyak orang
  • Menggunakan instrumen terstandar serperti kuesioner dengan opsi jawaban tetap (mis. sangat setuju–sangat tidak setuju), tes, dan skala sikap

5. Analisis dan interpretasi

Menggunakan statistik: 

  • Deskriptif: rata‑rata, standar deviasi, frekuensi
  • Inferensial: uji perbandingan kelompok, korelasi, regresi

Menafsirkan dengan cara:

  • Apakah hasil sesuai/bertentangan dengan hipotesis awal?
  • Bagaimana dibandingkan dengan penelitian sebelumnya?

6. Pelaporan

  • Struktur relatif baku seperti pendahuluan, telaah literatur, metode, hasil, dan diskusi/kesimpulan
  • Gaya penulisan objektif, impersonal, peneliti berusaha meminimalkan bias pribadi


Karakteristik penelitian kualitatif

Penelitian kualitatif tepat apabila kita ingin mengeksplorasi fenomena yang belum banyak diketahui, dan memahami makna/pengalaman mendalam sekelompok orang.

Ciri utama kualitatif di sepanjang 6 langkah:

1. Masalah penelitian

  • Fokus pada eksplorasi karena ingin memahami secara rinci suatu fenomena sentral (central phenomenon), misalnya “kepercayaan orang tua pada kepala sekolah”
  • Seringkali variabel belum jelas, justru ingin ditemukan dari lapangan

2. Literatur

Peran dalam penelitian ini lebih kecil di awal karena cukup untuk menunjukkan bahwa masalah itu penting/kurang diteliti, dan tidak digunakan untuk mengunci arah pertanyaan secara kaku karena peneliti ingin belajar dari responden penelitian.

3. Tujuan dan pertanyaan

Dirumuskan luas dan terbuka untuk memudahkan responden mengekspresikan pengalaman dengan cara mereka sendiri.

Contoh: Apa pengalaman anda terkait kepercayaan pada kepala sekolah?

4. Pengumpulan data

  • Data berupa kata‑kata atau gambar yang dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dokumen, foto, dan video
  • Biasanya dari jumlah partisipan yang kecil agar dapat memahami pandangan mereka secara mendalam

5. Analisis dan interpretasi

  • Memecah teks menjadi potongan (text segments), lalu memberi kode, mengelompokkan menjadi kategori/tema, dan membuat deskripsi rinci orang/tempat/peristiwa
  • Menafsirkan makna yang lebih luas tentang bagaimana temuan terkait penelitian sebelumnya, refleksi pribadi peneliti, dan makna abstrak yang lebih besar

6. Pelaporan

  • Struktur fleksibel, berkembang (emerging), bisa mirip format ilmiah, atau berbentuk storytelling: cerita, vignette, kutipan panjang, metafora
  • Peneliti sering menampilkan refleksi diri dan biasnya secara eksplisit


Menyesuaikan pendekatan dengan masalah, audiens, dan pengalaman

Creswell dan Guetterman (2019) memberikan tiga pertimbangan saat memilih pendekatan:

1. Kesesuaian dengan masalah penelitian

Kuantitatif:

Apabila ingin mengukur variabel, menguji teori, menjelaskan/prediksi hubungan, generalisasi ke banyak orang.

Kualitatif:

Apabila ingin mengeksplorasi pandangan individu, memahami proses, membangun teori dari bawah (grounded), atau menggali detail mendalam beberapa orang/situs.

2. Kesesuaian dengan audiens

  • Pembaca tertentu lebih familiar dengan: laporan kuantitatif yang standar atau laporan kualitatif yang naratif
  • Peneliti perlu mempertimbangkan harapan audiens (mis. komite kampus, jurnal, pembuat kebijakan, guru, praktisi)

3. Kesesuaian dengan latar belakang peneliti

  • Peneliti kuantitatif biasanya punya pelatihan statistik, pengukuran, eksperimen, survei
  • Peneliti kualitatif biasanya memiliki pengalaman kerja lapangan, observasi, wawancara, analisis teks


Isu‑isu etis penting dalam penelitian pendidikan

Karena adanya sejarah penyalahgunaan subjek penelitian (misal eksperimen Nazi, Tuskegee), maka pemerintah dan asosiasi profesi menerbitkan banyak pedoman etika.

1. Level regulasi

Institutional Review Boards (IRB) kampus:

Di kampus yang menerima dana federal, peneliti pendidikan harus mengajukan proposal ke IRB, menunjukkan bagaimana peserta akan dilindungi, dan menyiapkan formulir persetujuan (informed consent).

Asosiasi profesional:

Misalnya American Educational Research Association dan American Psychological Association (APA), dsb. Asosiasi ini memberi pedoman tentang hak peserta, cara melaporkan hasil.

2. Hak peserta dan praktik etis

Pedoman umum:

Peserta berhak mengetahui, tujuan dan metode studi, bagaimana data akan digunakan, dan konsekuensi sosial yang mungkin muncul.

Peserta:

Peserta boleh menolak ikut dan boleh mengundurkan diri kapan saja.

Peneliti:

Peneliti menjaga anonimitas/kerahasiaan identitas, tidak memberi imbalan berlebihan yang bisa memaksa orang berpartisipasi, dan mencari cara untuk memberi kembali (reciprocate) pada peserta.

Dalam pelaporan:

Data harus dilaporkan secara jujur, tidak boleh dimanipulasi, tidak boleh plagiarisme, semua kutipan diberi kredit, dan hindari bahasa yang diskriminatif atau merendahkan terhadap kelompok tertentu.


Referensi

Creswell, J. W., & Guetterman, T. C. (2019). Educational research: Planning, conducting, and evaluating quantitative and qualitative research (6th ed.). Pearson.

3/03/2026

Model comparison dan parameter constraints di SEM

Model comparison (perbandingan model) dan parameter constraints (batasan parameter)

Apa itu model dalam SEM?

Model = “peta hubungan sebab-akibat” antar variabel.

  • Panah satu arah X → Y: “X memengaruhi Y” (regresi/efek langsung)
  • Panah dua arah X ↔ Y: “X berkorelasi dengan Y” (hubungan tanpa arah sebab-akibat yang tegas)
  • Setiap panah punya angka (parameter) yang menunjukkan seberapa kuat pengaruh/hubungannya
  • Ada juga “error” (bagian yang tidak bisa dijelaskan model)

Tujuan SEM: melihat apakah pola hubungan yang kita gambar cocok (fit) dengan data.

Intinya: model mencoba meniru pola hubungan yang ada di data. Kalau model “mirip” dengan data, kita bilang fit-nya bagus.


Apa itu “Parameter”?

Parameter = angka-angka di model yang harus diestimasi/dicari dari data, misalnya:

  • Koefisien pengaruh pada panah (seberapa kuat pengaruh X ke Y)
  • Korelasi (↔)
  • Varians (besar penyebaran/error)

Kalau model punya lebih banyak parameter bebas, biasanya lebih mudah “menyesuaikan” data (fit bisa membaik), tapi risikonya: terlalu “menghafal” data (overfit) dan tidak sederhana.


Apa itu Model Fit (kecocokan model)?

Model fit menjawab: “Seberapa dekat model kita dengan data nyata?”

Di  SEM, sering muncul beberapa ukuran (fit indices), misalnya:

- Chi-square (χ²): mengukur “jarak” antara model dan data. (Semakin kecil umumnya semakin baik.)

- df (degrees of freedom/ derajat bebas): kira-kira ukuran “kesederhanaan model”.

  • Model lebih sederhana → df biasanya lebih besar.
  • Model lebih rumit → df biasanya lebih kecil.

- CFI, TLI: umumnya makin mendekati 1 makin baik.

- RMSEA: umumnya makin kecil makin baik.

- AIC, BIC: dipakai untuk membandingkan model (umumnya lebih kecil lebih baik).

Catatan: membandingkan fit indices itu deskriptif (membantu memilih), bukan “pembuktian mutlak” untuk semua situasi.


Kenapa kita perlu “Model Comparison” (membandingkan model)?

Karena saat analisis, kita sering mencoba beberapa model:

  • Model A: sederhana (lebih sedikit panah/ parameter)
  • Model B: kompleks (lebih banuak panah/ parameter)

Pertanyaan:

  • Kalau menambah parameter: apakah fit benar-benar membaik?
  • Kalau menghapus parameter: apakah fit jadi jauh lebih buruk?


Ukuran-ukuran fit yang sering dibandingkan

- χ² (Chi-square)

Mengukur “jarak” antara model dan data.

Umumnya χ² lebih kecil → lebih baik (tapi sangat dipengaruhi ukuran sampel N).

- df (degrees of freedom/ derajat bebas)

Kira-kira menunjukkan “seberapa dibatasi” modelnya.

  • Model lebih sederhana biasanya punya df lebih besar.
  • Model lebih fleksibel/kompleks biasanya df lebih kecil.

- CFI, TLI

Indeks perbandingan dengan baseline model. 

Semakin mendekati 1 → biasanya semakin baik.

- RMSEA

Mengukur error aproksimasi per df.

Lebih kecil → biasanya lebih baik.

- AIC, BIC

Untuk membandingkan model (terutama yang tidak selalu nested).

Lebih kecil → biasanya lebih baik (menghukum model yang terlalu kompleks).

Catatan: perbandingan fit indices bersifat deskriptif (membantu memilih), bukan satu-satunya dasar “pembuktian statistik”.


Konsep penting: “Nested Models” (model bersarang)

Dua model disebut nested (bersarang) kalau:

- Model lengkap (full/ unrestricted) punya semua parameter model sederhana plus minimal 1 parameter tambahan.

- Model sederhana (reduced/ restricted) bisa dibuat dari model lengkap hanya dengan memberi batasan (constraint), misalnya:

  • mengubah suatu panah jadi 0 (dihapus)
  • atau memaksa dua pengaruh harus sama.

Contoh:

  • Model 1 (full): ada korelasi error (lebih banyak parameter)
  • Model 2 (reduced): korelasi error dihilangkan (ada “pembatasan”) → Model 2 nested di dalam Model 1.

Kalau tidak nested, kita tidak bisa memakai beberapa tes perbedaan χ² dengan cara standar.


Cara membandingkan model nested: LRT/ Chi-square Difference Test

Nama lain: Likelihood Ratio Test (LRT) atau uji selisih chi-square.

- Ide sederhana:

Kita bandingkan model full (lebih bebas) vs reduced (lebih dibatasi)

Hitung selisih:

Aturan keputusan (gampangnya):

  • Jika Δχ²  “besar” (signifikan) → model reduced lebih buruk secara nyata → model full lebih layak.
  • Jika tidak signifikan → tambahan parameter di full tidak terlalu perlu → pilih reduced (lebih sederhana).


LM Test (Lagrangian Multiplier) & Modification Indices (MI)

- LM Test itu apa?

LM test menjawab pertanyaan:

“Kalau kita membebaskan satu constraint (misalnya menambah satu panah yang tadinya 0), kira-kira fit membaik tidak?”

Ciri penting:

  • Cukup mengestimasi model yang restricted saja.
  • Hasilnya memberi petunjuk: constraint mana yang kalau dibuka akan paling menurunkan χ².

- Modification Indices (MI) itu apa?

MI adalah “petunjuk otomatis” dari software:

“Kalau kamu menambah parameter ini (mis. tambah panah X → Y), kira-kira χ² turun sebesar …”

Kadang ada contoh MI yang menyarankan hubungan tertentu untuk ditambah, lalu model direvisi dan fit membaik.

Peringatan penting dari:

  • Hati-hati “fishing expedition” (asal coba-coba karena ingin fit bagus).
  • Bisa “capitalizing on chance” = kebetulan cocok di data ini, tapi gagal di data lain.
  • Idealnya perubahan harus masuk akal secara teori, dan perlu replikasi (dicek lagi di data lain).


Wald Test (untuk “model trimming”/ menghapus jalur)

Kalau LM/MI itu seperti:

“Tambahkan apa supaya lebih baik?”

Maka Wald test seperti:

“Parameter ini kalau dihapus (dibuat 0), apakah model jadi jauh lebih buruk atau tidak?”

Catatan:

  • Dipakai untuk “trimming” (merapikan model)
  • Disarankan hati-hati, terutama kalau N (jumlah data) kecil
  • Jangan asal buang semua jalur yang tidak signifikan; lebih aman menunggu replikasi

Ringkasan fungsi:

  • Wald: menguji apakah pembatasan bisa dipasang (boleh dihapus/ dibuat 0).
  • LM: menguji apakah pembatasan sebaiknya dilepas (sebaiknya ditambah jalur).


Model Respecification (kalau model tidak fit, apa yang dilakukan?)

- Cari penyebab umum:

  • Salah memasukkan hubungan (inclusion yang keliru)
  • Ada hubungan penting yang lupa dimasukkan (exclusion)
  • Memang model dasarnya kurang tepat

- Kalau sudah mengubah-ubah model berdasarkan data, kita masuk wilayah eksploratori:

  • p-value jadi “perkiraan”
  • butuh replikasi

- Lebih baik revisi berdasarkan teori, bukan hanya angka.

- Praktik yang lebih sehat:

  • Lihat residuals (bagian yang tidak dijelaskan model) untuk tanda “ada yang aneh”
  • Bisa “pecah” masalah jadi bagian kecil (piece-wise fitting)


Parameter Constraints (Pembatasan Parameter)

Ini bagian “mengunci” parameter untuk menguji hipotesis tertentu.

- Jenis constraint yang umum

Fixing parameter to 0

  • Contoh: “panah ini dianggap tidak ada” → koefisien = 0.
  • Ini mirip ide trimming.

- Equality constraints (membuat dua parameter sama)

  • Contoh hipotesis: “Pengaruh A ke Y sama besar dengan pengaruh B ke Y.”
  • Ditulis seperti: 

Makna konseptualnya:

Kita mengatakan dua pengaruh itu “kekuatan efeknya sama”, jadi model dipaksa memperlakukan keduanya setara.

Cara mengecek constraint “masuk akal atau tidak”, biasanya dibandingkan:

  • Model full (tanpa dipaksa sama)
  • Model constrained (dipaksa sama)

Kalau setelah dipaksa sama ternyata fit jadi jauh lebih buruk, berarti dugaan “keduanya sama” tidak cocok dengan data.


Jadi, “pilih yang mana” saat membandingkan?

Rekomendasi:

  • Umumnya LRT (chi-square difference test) direkomendasikan karena fleksibel dan “serbaguna”
  • Ada pengecualian tertentu (mis. constraint pertidaksamaan)

Prinsip besar yang aman:

  • Kalau dua model nested dan hasil LRT bilang “perbedaannya tidak signifikan” → pilih model yang lebih sederhana
  • Tapi jangan cuma angka: perubahan model sebaiknya tetap masuk akal secara teori


This entry was posted in
View My Stats